Rabu, 27 April 2016

Jenis-Jenis Pidato (Persuasif dan Informatif)

Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
            Segala Puji bagi Allah yang telah memberi kita berbagai macam nikmat, baik nikmat iman, nikmat islam, nikmat sehat wal afiyat serta nikmat panjang umur. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Jenis-jenis Pidato (Persuasif dan Informatif) ” Mudah-mudah kita selalu di dalam naungan Allah Swt.
            Sholawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Mudah mudah keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya termasuk kita sampai dengan hari kiamat mendapatkan syafaat dari baginda Nabi Muhammad Saw.
            Dalam hal ini kami mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada pihak yang membatu terbentuknya makalah ini. Kepada orang tua kami, kepada teman teman kami dan kepada Bapak Dosen yang telah menjadi inspirasi dan penyemangat kami.
Kiranya dalam penulisan makalah ini ada kekeliruan dan kesalahan kami mohon kritik dan saran yang membangun motivasi kami. Demikianlah  yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat.
           

Jakarta, 18 September 2015


                                                                                                  Penyusun
                                                                                                 Qois Dzulfaqqor










BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pidato adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan untuk mendapatkan perhatian seseorang dan memengaruhi seseorang baik yang bersifat kea rah positif maupun bersifat kea rah yang kurang baik. Dalam penyampaian pidato haruslah tepat dalam segi penyampaian, tujuan dan penggunaan metodenya. Hal ini yang menjadi kunci utama dalam kesuksesan seseorang dalam berpidato. Dalam makalah ini akan dibeberkan bagaimana kiat kiat kita menggunakan jenis-jenis metode pidato dan memilih tujuan yang tepat agar tidak salah dalam menyampaikan maksud kita ketika berpidato. 
B.     Rumusan Masalah
1.      Ada berapa jenis-jenis pidato ?
2.      Adakah kekurangan dan kelebihan dari masing jenis pidato tersebut ?
3.      Bagaimana cara mempersuasi dalam berpidato ?
4.      Cara member informasi yang baik dalam berpidato itu seperti apa ?
C.     Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis untuk menambah pengetahuan kita tentang jenis-jenis pidato beserta teknik dalam mempersuasi serta member informasi yang baik ketika berpidato dengan metode-metode yang tepat dan akurat sehingga kita menjadi juru pidato yang handal.
                                                                                                                                                                                          












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Jenis-Jenis Pidato Menurut Metodenya
Menurut ada tidaknya persiapan, sesuai dengan cara yang dilakukan waktu persiapan, dapat dikemukakan empat macam pidato : impromptu, manuskrip, memoriter, dan ekstrempore.
a.       Impromptu
Bila kita menghadiri pesta dan tiba-tiba dipanggil untuk menyampaikan pidato, pidato yang kita lakukan disebut pidato impromtu. Bagi juru pidato yang berpengalaman, impromptu memiliki beberapa keuntungan:
1.      Impromptu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena pembicara memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya.
2.      Gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup
3.      Impromptu memungkinkan anda untuk berpikir.
Kerugian yang dapat melenyapkan keuntungan-keuntungan di atas, lebih-lebih pembicara yang masih “hijau” :
1.      Impromptu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah, karena dasar pengetahuan yang tidak memadai.
2.      Impromptu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat atau tidak lancar.
3.      Gagasan yang disampaikan bisa acak-acakan dan ngawur.
4.      Karena tiadanya persiapan, kemungkinan demam panggung besar sekali.
Impromptu sebaiknya dihindari, tetatpi bila terpaksa hal-hal berikut dapat dijadikan pegangan :
1.      Pikirkan lebih dahulu teknik permulaan pidato yang baik. Misalnya : cerita, hubungan dengan pidato sebelumnya, bandingan, ilustrasi dan sebagainya.
2.      Tentukan sisitem organisasi pesan. Misalnya : susunan kronologis, teknik “pemecahan soal”, kerangka sosial ekonomi-politik, hubungan teori dan praktek.
3.      Pikirkan teknik menutup pidato yang mengesankan. Kesukaran menutup pidato biasanya merepotkan pembicara impromtu.[1] 
b.      Manuskrip
Manuskrip disebut juga dengan pidato dengan naskah. Juru pidato membaca naskah pidato dari awal sampai akhir. Disini tidak berlaku istilah “menyampaikan pidato”, tetapi membacakan pidato. Manuskrip diperlukan oleh tokoh nasional, sebab salah satu kata saja dapat menimbulkan kekacauan dan berakibat jelek bagi pembicara.manuskrip manuskrip juga dilakukan oleh ilmuan yang melaporkan hasil penelitiannya dalam pertemuan ilmiah. Pidato radio dapat menggunakan manuskrip tanpa kelihatan oleh pendengar.
Pidato manuskrip tentu bukan jenis pidato yang baik walau mempunyai keuntungan sebagai berikut :
1.      Kata-kata dapat dipilih dengan sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti kata yang tepat secara gambling.
2.       Pernyataan dapat dihemat , karena dapat disusun kembali.
3.      Kepasihan bicara dapat dicapai,kareana kata-kata sudah disiapkan.
4.      Hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindarkan.
5.      Manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.
Ditinjau dari proses komunikasi manuskrip mempunyai kerugian yang cukup berat diantarnya :
1.      Komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka.
2.      Pembicara tidak dapat meliat pendengar dengan baik, sehingga akan kehilangan gerak-gerik dan terlihat kaku.
3.      Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah perpendekan pesan atau memperpanjang pesan yang disampaikan.
4.      Pembuatannya lebih lama dan sekedar menyiapkan garis besarnya saja.[2]
c.       Memoriter
Cara seperti ini sebenarnya lanjutan seperti cara membaca naskah. Naskah yang sudah disiapkan, tidak dibacakan tetatpi di hafalkan lebih dulu, kemudian diucapkan dalam kesempatan berpidato. Berpidato dengan cara menghafalkan naskah hanya bisa dilakukan jika naskahnya pendek.
Walaupun naskah tersebut pendek, tetapi jika naskah itu dibaca berulang-ulang, maka akan mudah diingat dan bukan khusus dihafalkan. Dengan membacaberulang-ulang, isinya pun dapat kita sesuaikan. Dalam penyampaiaannya dapat disampaikan secara bebas. Artinya, kalimat-kalimat tidak perlu sama dengan naskah, tetapi isinya sama.
Kelebihan dari memoriter yaitu :
1.      Lancar disampaikan kalau benar-benar hafal.
2.      Tidak menemui kesalahan kalau naskah itu bener-benar dikuasai.
3.      Mata pembicara dapat memandang pendengar.
Kekurangan dari memoriter yaitu:
1.      Pembicara cenderung berbicara cepat tanpa penghayatan.
2.      Tidak dapat menyesuaikan dengn situasi dan raksi pendengar.
3.      Kalau lupa salah satu kata maka pidatonya gagal total.[3]
d.      Ekstemporer
Jenis pidato ini yang paling baik dan paling banyak dilakukan oleh juru pidato yang mahir.pidato sudah dibuat garis besarnya (out-line) dan pokok-pokok penunjang pembahasan. Tetapi pembicara tidak berusaha mengingatnya kata demi kata. Out-line itu hanya merupakan pedoman untuk mengatur gagasan yang ada dalam pikiran kita. [4]
 Kelebihan dari jenis Ekstemporer adalah :
1.      Pokok-pokok isi pidato tak terlupakan.
2.      Penyampaian isi pidato berurut.
3.      Kemungkinan salah kecil.
4.      Komunikatif.
Sedangkan kelemahan daripada jenis ekstemporer yaitu :
1.      Tangan kurang bebas karena memegang kertas.
2.      Terkesan kurang siap, karena sering melihat catatan.
Pengetahuan metode penyajian sebuah pidato belumlah lengkap kalau pembicara atau komunikator belum mengetahui dasar-dasar pidato yang baik, seperti yang dikemukakan oleh William J. Mc Culloght (1986) bahwa ada empat yang harus diperhatikan pembicara dalam berpidato didepan umum jika ingin pidato yangdisampaikan sukses yaitu :
1.      Pengetahuan yang merupakan pokok utama pembicaraan.
2.      Ketulusan, harus percaya akan pokok pembicaraan.
3.      Semangat, hasrat untuk berbicara dengan orang lain.
4.      Praktik, menggunakan setiap kesempatan untuk berbicara.[5]
B.     Jenis-jenis Pidato Menurut Tujuannya
Ada tiga macam jenis Pidato menurut tujuan pidato, diantaranya yaitu pidato informatif, persuasif, dan rekreatif. Untuk lebih jelasnya akan dipapar lebih detail berikut ini.
a.      Pidato Informatif
Tujuan pidato yaitu untuk menyampaikan informasi agar audiens mengetahui, mengerti dan menerima informasi yang diberikan oleh juru pidato. Jenis pidato ini merupakan upaya untuk menanamkan pengertian. Karena secara keseluruhan pidato informatif harus jelas, logis dan sistematis.
Menurut teori Monroe ada tiga tahap pada pidato informatif yaitu :
1.      Tahap perhatian: Dalam tahap ini ada 4 hal yang harus diperhatikan yaitu menarik perhatian, menunjukkan topik, menghubungkan topik dengan membangun kredibilitas, dan menjelaskan susunan pembicaraan (semacam daftar acara).
2.      Tahap kebutuhan: Ada 4 cara yaitu, pernyataan-bagaimana audiens lebih banyak tahu tentang pokok bahasan, ilustrasi-berikan beberapa contoh yang menonjol kebutuhan pendengar, peneguhan-sajikan fakta, angka, dan kutipan tambahan untuk lebih meyakinkan pendengar, penunjukan-pokok pembicaraan berkaitan dengan kepentingan, kesejahterahan,dan keberhasilan khalayak.
3.      Tahap pemuasan:  kita menyampaikan informasi itu sendiri. Misalnya menjeaskan keterampilan berpidato. Tahap ini dibagi menjadai 3 bagian: Ikhtisar pendahuluan; kita menyebutkan pokok-pokok pembicaraan satu demi satu. Tujuannya adalah memberi gambaran menyeluruh kepada khalayak isi pembicaraan kita. Contohnya, ”Ada tiga hal yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini”. Kita harus konsisten dalam mengikuti urutan tersebut. Kemudian informasi terinci-pokok-pokok pembicaraan yang dibacakan tadi akan dijelaskan satu persatu. Semua disusun logi secara sistematis. Ikhtisar akhir-mengulang lagi pokok-pokok pembicaraan yang penting, kemudian mengambil kesimpulan.[6]
b.      Pidato Persuasif
Ada beberapa teknik-teknik persuasif jika dilihat dari khalayaknya :
1.      Ada khalayak tak sadar adanya masalah, kita gunakan langkah-langkah sebagai berikut:
-          Tahap perhatian. Khalayak dibangkitkan minatnya, dikemukakan fakta dan angka yang menjengukan mereka. Misalnya : DKI Jakarta sampai saat ini (2006) dinyatakan belum bebas demam berdarah.
-          Tahap kebutuhan. Sajikan sejumlah fakta, angka, dan kutipan yang ditujukan untuk memperlihatkan memang ada masalah. Sebutkan dengan khusus bagaimana situasi yang memengaruhi ketentraman, kebahagiaan, atau kesejahterahan pendengar. Misalnya: Ada sebuah fakta mengungkapkan bahwa ada banyak sekali pabrik-pabrik narkoba yang telah digerebek dan ditutup oleh pihak kepolisian,
-          Tahap Pemuasan. Visualisasi, dan tindakan. Dalam pengembangan tahap-tahap itu, gunakanlah kesempatan yang ada untuk memperkenalkan bahan-bahan yang lebih factual untuk menegaskan masalah.  Sebutkan kembali bahan-bahan yang lebih factual tersebut dalam membuat ikhtisar akhir sekaligus menghimbau mereka untuk meyakinkan dan mengikutinya.
2.      Khalayak  Apatis (masa bodoh). Berbeda bagi mereka yang tidak sadar dengan adanya masalah, tahap ini untuk mengantisipasi khalayak yang mengetahui masalahnya, tetapi mereka tak peduli, karena merasa bukan urusannya. Pembicara harus meyakinkan mereka bahwa masalah yang mereka ketahui, akan memengaruhi mereka. Misalnya pentingnya memerhatikan kebersihan lingkungan. Lakukan secara bertahap :
-          Tahap perhatian. Singkirkan sikap yang apatis dengan menyentuh beberapa hal yang berkaitan kepentingan pendengar. Misalnya, jika kebersihan lingkungan tidak diperhatikan, akan menimbulkan berbagai penyakit. Gunakan ungkapan-ungkapan hidup untuk menundukkan bagaimana kesehatan, kebahagiaan, ketentraman, dan nkesempatan untuk maju.
-          Tahap kebutuhan. Apabila sudah timbul perhatian, lanjutkan dengan pertanyaan bagaimana masalah tersebut memengaruhi setiap orang yang hadir?. Usahakan menanyakan masalah dengan menunjukkan : 1. Efek secara langsung atau segera terhadap mereka; 2. Efeknya kepada keluarga, sahabat, kepentingan bisnis, atau kelompok professional mereka; 3.  Kemungkinan efek masa depan bagi anak-anak mereka. dalam menunjukkan efek itu, gunakanlah buktik-bukti yang sekuat mungkin.
-          Tahap pemuasan. Tahap ini ditunjukkan terus-menerus bahwa sikap apatis dalam masyarakat tidak dapat dibenarkan.
-          Tahap Visualisasi dan tindakan. Dalam visualisasi keuntungan akan diperoleh khalayak. Sementara itu berdasarkan visualisasi, minta kepada mereka untuk mempelajari masalah atau bertindak mengatasinya.  [7]
3.      Khalayak yang tertarik tetapi ragu. Sebagian khalayak tahu dan sadar tetapi belum mengambil keputusan karena mereka masih meragukan keyakinan yang akan diikuti atau tindakan yang akan dijalankan. Untuk meyakinkan khalayak, maka gunakan tahap-tahap berikut:
-          Tahap Perhatian. Pusatkan perhatian pada hal yang focus saja.
-          Tahap kebutuhan. Tinjaualah secara singkat latar belakang timbulnya masalah. Buatlah kriteria atau pedoman yang harus dipenuhi dalam mengambil keputusan yang tepat.
-          Tahap Pemuasan. Pidato disini dianggap penting, kemungkinan lebih panjang. Namun, tunjukkan secara singkat rencana tindakan yang harus dilakukan. Definisikan isi-isi agar yang kabur tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
-          Tahap visualisasi. Proyeksikan Khalayak ke masa depan dengan melukiskan gambaran realitas dari kondisi-kondisi yang dikehendaki bila orang menerima usulan kita atau mendukungnya  atau kerugian besar akan terjadi jika menolaknya.
-          Tahap tindakan. Buatlah ikhtisar singkat dari argumen-argumen penting dan imbauan yang dikemukakan pada pembicaraan sebelumnya.
4.      Khalayak yang bermusuhan. Adakalanya Khalayak sadar bahwa masalah yang harus diatasi, tetapi mereka menentang usulan yang kita ajukan. Pertentangan bisa terjadi karena takut akibat yang tidak dikehendaki atau lebih menyukai alternative lain daripada apa yang kita tawarkan. Agar khalayak menerima gagasan yang kita ajukan, berikut ini langkah-langkahnya sebagai berikut:
-          Tahap perhatian. Khalayak tidak menyenangi usulan kita, jalinlah persahabatan dengan khalayak, usahakan kita mengalah pada segi-segi tertentu dari pandangan pendengar. Carilah kesamaan, dengan menegaskan pokok-pokok yang disepakati, perkecil perbedaan. Usahakan agar mereka merasa bahwa kita secara tulus ingin mencapai hal yang mereka juga inginkan.
-          Tahap kebutuhan. Kembangkan tahap ini seperti menghadapi khalayak yang masih ragu.
-          Tahap visualisasi dan tindakan. Pendengar sudah pada posisi tertarik walau ada yang masih ragu. Pengembangan pidato hendaknya banyak memberi tekanan pada visualisasi atau keuntungan-keuntungan.[8]
c.       Pidato Rekreatif.
Pidato rekreatif adalah pidato yang biasanya diselipkan humor-humur sehingga suasa yang ada tidak cenderung kaku dan menegangkan. Berikut ini adalah karakteristik daripada pidato Rekreatif yaitu :
-          Tidak melulu melucu. Alan H. Monroe menyebutnya “the speech to entertain” pidato untuk menghibur. Kita berbicara tidak untuk tujuan menyampaikan informasi, tidak pula untuk mempengaruhi. Tujuannya adalah hanya menggembirakan, melepas ketegangan, menggairahkan suasana. Namun, pidato rekreatif tidak selalu melucu, kita bisa saja menceritakan kisah yang luar biasa, eksotis, aneh tetapi nyata, aneh tetapi tidak nyata. Selama kita membuat pendengar tertarik, mengendurkan urat saraf mereka, membuat mereka santai. Kita sedang menyampaikan pidato rekreatif.[9]
Pidato seperti ini bisa disampaikan di tempat pesta, pertemuan diorganisasi sosial, jamuan makan malam dan sebagainya.
-          Gembirakan diri kita dahulu. Pidato rekreatif harus disampaikan orang berwajah ceria, riang, gembira, dan santai. Kalau diri kita tidak dapat diarahkan kepada kegembiraan, jangan paksakan diri kita menggembirakan hati orang lain.
-          Hindari rangkaian gagasan yang sulit. Kita sedang menghibur. Pilihlah topik yang ringan, sederhana, dan mudah dipahami.
-          Gunakan gaya bercerita. Cerita kita dijalin sedemikian rupa sehingga berkaitan satu sama lain.
-          Berbicaralah secara singkat. Pidato rekreatif hanya pada tahap perhatian, tidak mengikuti alaur bermotif lengkap. Berhentilah ketika pendengar kita masih menginginkan kita berpidato.[10]















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa pidato itu terbagi dari beberapa jenis, yaitu menurut metode penyampaiannya dan menurut tujuannya. Jenis-jenis menurut metodenya ada sekitar 4 macam yaitu : impromptu, manuskrip, memoriter, dan ekstrempore.
-          Impromptu adalah pidato yang sering disebut sebagai pidato dadakan, atau pidato yang dilakukan tanpa persiapan terlebih dahulu.
-          Manuskrip, yaitu pidato yang dibawakan dengan melihat naskah yang telah disusun sebelumnya, biasanya dilakuakan oleh pembesar kenegaraan agar tidak salah dalam pengucapan dan menghindari kesalahan dalam menata kata-kata. Pidato jenis ini tergolong kaku.
-          Memoriter adalah pidato yang disampaikan dengan menghafal teks yang telah disiapkan. Kekurangannya adalah jika kita lupa beberapa kata maka akan kacau semua pidato yang kita sampaikan.
-          Ekstrempore, yaitu pidato yang dibantu dengan naskah yang isinya hanya gambaran umum tentang pidato yang kita akan sampaikan. Kekurangannya yaitu kita terlihat tidak siap karena masih memegang kertas ditangan kita.
Lalu pidato menurut tujuannya pidato terbagi menjadi 3 yaitu : informatif, persuasif, dan rekreatif. Sesuai namanya informatif yaitu pidato yang bersifat memberi informasi kepada pendengarnya. Lalu pidato persuasif yaitu pidato yang bersifat untuk memengaruhi pendengar pidato tersebut. sedangkan pidato rekreatif yaitu pidato yang dilakukan untuk menghibur audiens agar tidak bosan dan jenuh ketika mendengarkan sebuah pidato. 









Daftar Pustaka
Olii, Helena. Public Speaking. Jakarta: PT Indeks, 2007.
Rakhmat, Jalaluddin. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992.
Syakuro, Abdan. Jenis-jenis Pidato. Media Pidato, 12 Maret 2015. Web. 18 September 2015. http://www.mediapidato.com/2014/12/jenis-jenis-pidato.html




[1] Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1992), h. 17.
[2] Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, h. 18.

[3] Helena Olii, Public Speaking (Jakarta: PT Indeks, 2007),  h. 39-40.
[4] Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis , h. 19.
[5] Olii, Public Speaking,  h. 41.
[6],  Olii, Public Speaking , h. 49-50.
[7] Olii, Public Speaking,  h. 50-52.
[8] Olii, Public Speaking,  h. 52-54.
[9] Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis , h. 125.
[10] Olii, Public Speaking,  h. 41.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar