Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
Segala Puji bagi Allah yang telah
memberi kita berbagai macam nikmat, baik nikmat iman, nikmat islam, nikmat
sehat wal afiyat serta nikmat panjang umur. Sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Analisis
Retorika Khutbah Jum’at Ust. H. Muhammad Arifin Ilham” semoga kita selalu di dalam naungan Allah Swt.
Sholawat serta salam tak lupa kita
haturkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Mudah-mudahan keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya termasuk kita sampai dengan hari
kiamat mendapatkan syafaat dari baginda Nabi Muhammad Saw.
Dalam hal ini kami mengucapkan
terima kasih yang mendalam kepada pihak yang membatu terbentuknya makalah ini.
Kepada orang tua kami, kepada teman teman kami dan kepada Bapak Dosen yang
telah menjadi inspirasi dan penyemangat kami.
Kiranya dalam
penulisan makalah ini ada kekeliruan dan kesalahan kami mohon kritik dan saran
yang membangun motivasi kami. Demikianlah
yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat.
Jakarta, 05 Desember 2015
Penyusun
Qois Dzulfaqqor
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita
sering menjumpai aktivitas-aktivitas yang bersifat dakwah. Baik di media massa
seperti televisi, radio, sosial media maupun secara langsung seperti pada
peringatan hari-hari besar islam ataupun ketika sedang khutbah jum’at yang
setiap minggunya kita saksikan.
Dalam berdakwah masing masing Da’i
memiliki karakteristik yang berbeda beda satu sama lainya. Baik dalam segi
penyampaian ceramah, tata bahasa, maupun keunikan dari si Da’i itu sendiri
sehingga jama’ah yang hadir menjadi betah di dalam majelis tersebut. namun, tak
banyak juga Da’i yang mampu menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada pada saat
ia tampil. Sehingga jama’ah merasa bosan dengan tausiah yang dibawakan oleh
sang Da’i. Hal ini yang membuat banyak jama’ah menjadi kurang paham dan salah
penafsiran ketika mempraktekkan di kehidupan sehari hari.
Dalam makalah ini, saya mengangkat
tema analisis retorika dakwah seorang ustadz yang benama Uts. H. Muhammad Arifin
Ilham karena saya melihat dalam diri
Ust. H. Muhammad Arifin Ilham mencerminkan sebagai sosok Da’i yang cukup
terbilang berhasil dalam dakwahnya. Apa saja kiat-kiat yang membuat beliau
berhasil dalam dakwah terutama dilihat dari sisi retorika yang beliau bawakan
di setiap Tausiah maupun khutbah ?.
B. Rumusan Masalah
1.
Siapakah
Ust. H. Muhammad Arifin Ilham ?
2.
Kiat-kiat
retorika apa saja yang digunakan oleh beliau dalam berkhutbah ?
C. Tujuan Penulisan
Makalah
ini disusun untuk mengetahui sejauh mana retorika dakwah Ust. H. Muhammad
Arifin Ilhma sehingga dakwah yang beliau lakukan tergolong berhasil hingga
puluhan ribu jama’ah selalu hadir saat tabligh akbar yang rutin dilakukan di
Masjid Adz- Dzikra Jabal Sindur. Dan juga mengambil pelajaran dari dakwah
beliau sehingga kita dapat berhasil menempuh sulitnya medan dakwah yang kita
akan hadapi kapanpun dan dimanapun.
PEMBAHASAN
A.
Mengenal Sosok Ust. H. Muhammad Arifin Ilham.
Adapun biodata beliau adalah sebagai berikut :
·
Nama : Ust. H. Muhammad Arifin Ilham
·
Tempat
Tanggal Lahir :
Banjarmasin, 8 Juni 1969.
·
Nama Istri : Rania
Bawazier (menikah tahun 2010), Wahyuniati Al-Waly
(menikah
tahun 1998)
·
Nama Anak : Amtaza
Syahla Arifin, Alaa Hifzhiyah Arifin, Muhammad
Alvin Faiz,
Muhammad Amer Azzikra, Muhammad Azka Najhan
·
Saudara
kandung : Mursidah,
Fitriani, Qomariah, Siti Hajar
·
Orang tua : Nurhayati
(ibu), Ismail Marzuki (ayah)
B.
Analisis Retorika Dakwah Khutbah Jum’at Ustadz. Muhammad Arifin Ilham
Dalam analisis ini kami menggunakan tambahan
referensi video khutbah Jum’at yang di unggah melalui Youtube dengan link
sebagai berikut :
Adapun yang pertama hasil analisis retorika
khutbah Ust. Arifin Ilham dipaparkan sebagai berikut :
a. Sikap Sebelum, Saat dan Sesudah Khutbah.
1.
Pemilihan
Pakaian
Dalam
suatu pidato, ceramah, atau khutbah seorang Da’i haruslah memperhatikan cara
berpakaian. Pemilihan cara berpakaian ini sangat mempengaruhi sikap simpati
mad’u yang melihatnya. Dalam hal ini Ust. H. Muhammad Arifin Ilham selalu
menggunakan pakaian muslim atau gamis berwarna putih dan peci sulam berwarna
putih pula dan sorban yang di kalungkan di lehernya. Pemilihan pakaian ini
sesuai dengan situasi dan kondisi yang akan dihadapi oleh Ust. Arifin. Yaitu
khutbah atau ceramah, sehingga audiens percaya bahwa beliau mampu menyampaikan
materi karena cara berpakaian beliau seperti orang yang sudah sangat pandai
berdakwah.
2.
Sebelum
menuju mimbar
Dalam
menuju mimbar beliau berjalan dengan langkah tenang dan tidak terburu-buru. Hal
ini membuat simpati yang positif dari
para jama’ah yang hadir. Jama’ah mempunyai anggapan bahwa khotib yang hendak
naik ke mimbar itu adalah khotib yang mumpuni dan mampu menjelaskan segala
macam hal yang berkaitan dengan ilmu agama. Posisi saat menuju mimbar itu sangat
penting. Jika kita menampilkan kegelisahan kita dengan berjalan terburu-buru
atau dengan gerakan-gerakan yang aneh yang mebuat mata para jama’ah terusik, dan akan menimbulkan ketidak percayaan
jama’ah kepada Da’i yang akan menyampaikan materi. Hal ini dapat dijelaskan
bahwa kesan pertama dalam penyampaian dakwah itu sangat penting, jika kesan
pertama salah diterjemahankan karena kecerobohan Da’i oleh jama’ah, maka
jama’ah akan menyimpulkan dengan cepat dan kesimpulan yang ditimbulkan itu
biasanya dimunculkan dengan persepsi yang negatif kepada sang Da’i.
3.
Sikap
Saat di Mimbar
Ketika
naik di mimbar Ust. H Muhammad Arifin Ilham tidak langsung mengucapkan salam.
Akan tetapi beliau diam sambil memperhatikan jama’ah yang hadir pada kesempatan
sholat jum’at yang dilaksanakan pada 4 Januari 2013. Setelah beliau rasa cukup
tenang beliau barulah mengucap salam. Hal ini dimaksudkan untuk membangun
mental dalam berkhutbah atau proses mengendalikan diri agar mengurangi rasa
kecemasan komunikasi (demam panggung). Siapapun orang yang berdakwah, sehebat
apapun orang dalam berbicara pasti masih terbesit dalam dirinya kecemasan
komunikasi tersebut walaupun hanya sedikit. Inilah teknik yang dilakukan oleh
Ust. H. Muhammad Arifin Ilham dalam melumerkan suasana sehingga mengurangi
kecemasan tersebut.
Kemudian sikap beliau ketika di mimbar yaitu
mampu tenang walaupun membahas tema dengan pembahasan yang menggebu gebu.
Biasanya Da’i sangat sulit mengontrol gerak tubuh terutama gerakan tangannya.
Tetap tenang dalam berkhutbah merupakan salah satu etika dalam berkhutbah. Hal
ini diterapkan oleh Ust. H. Muhammad Arifin Ilham sambil memegang tongkat.
Kemudian beliaupun menatap mata audiens yang hadir pada kesempatan tersebut.
karena kontak mata sangan penting. Walaupun tidak ada proses tanya jawab di
dalamnya, kontak mata menjadi salah satu indikator bahwa Da’i sedang
berkomunikasi kepada sang mad’u. Dan ketika duduk di antara dua khutbah beliau sengaja
mengambil jeda yang cukup lama. Agar jama’ah dapat berdo’a, karena beliau tahu
do’a di antara dua khutbah itu tiada hijab dan mustajabah. Ini juga termasuk
etika dalam berkhutbah yang beliau praktekkan.
4.
Sikap
Meninggalkan Mimbar
Dalam
berkhutbah hendaknya meninggalkan kesan yang baik. Kesan baik ini bukanhanya
berupa senyuman atau hal yang bersifat fisik belaka. Namun, dalam berkhutbah
yang lebih ditekankan yaitu meninggalkan ilmu pengetahuan yang membekas pada
jama’ah yang hadir dan dapat dengan
mudah dimengerti sehingga jama’ah mudah untuk menerapkannya. Dalam hal ini Ust.
Muhammad Arifin Ilham meninggalkan kesan yang positif. Hal ini bisa di katakan
karena beliau mampu menyampaikan hal mudah dipahami sehingga mudah untuk di
praktekkan oleh para jama’ah yang hadir.
b. Analisis Tujuan Khutbah Ust. H. Muhammad Arifin Ilham
Sebagaimana
kita ketahui bahwa setiap pidato, ceramah, ataupun khutbah mempunyai tujuan di
dalamnya. Tujuan tersebut dibagi menjadi 3 tujuan yaitu Informatif, persuasif
dan Rekreatif. Dalam khutbah yang disampaikan beliau terdapat unsur informatif
dan juga unsur persuasif. Dan sudah kita ketahui juga khutbah jum’at tidak
boleh diniatkan untuk tujuan rekreatif apalagi sengaja dibuat untuk sarana
lucu-lucuan belaka. Adapun unsur informatif yang ada pada khutbah ini ialah
sebagaimana kutipan khutbah berikut :
“Selamat
Tahun baru perayaan yang mubazir, perayaan yang sia-sia. Dan lihat sejarah,
tahun baru julious kaisar romawi menetapkan 1 Januari sebagai hari persembahan
kepada dewa jamus penguasa gerbang gerbang ruang dan waktu yang wajahnya
menghadap ke barat dan ke timur menghadap kepada perubahan waktu ke depan dan
ke belakang lalu mereka merayakan dengan menyanyi, memutari api unggun dan
meniup terompet bergembira ria mereka lalu haruskah umat islam latah mengikuti
perayaan tahun baru dengan meniup terompet, rasulullah Saw bersabda “aku larang
umat islam meniup terompet karena meniup terompet adalah kebiasan umat yahudi”
(HR. Abu Daud).”
Dalam
kutipan tersebut menjelaskan bahwa beliau memberi informasi kepada kita bahwa
perayaan tahun baru masehi bukanlah perayaan umat islam, tetapi perayaan bangsa
romawi dan kita sebagai umat islam tidak boleh merayakannya.
Kemudian
dari sisi persuasif yang dibawakan oleh beliau dalam khutbahnya sebagai berikut
:
“
karena itu wahai hamba-hamba Allah yang beriman dalam situasi seperti ini
tetaplah bertaqwa kepada Allah, jagalah aqidah, perbanyak sholat malam,
tadabburkan al-Qur’an, sholat berjama’ah di Masjid, sholat Dhuha, jaga wudhu,
berkumpullah dengan orang-orang sholeh, bergurulah dengan ulama yang istiqomah,
jangan terkecoh, jangan latah, jangan ikut-ikutan, semua punya konsekuensin
sendiri dimata Allah Jalla Jalalah,hidup kita tidaklama di dunia ini, apa
susahnya taat, apa susahnya sabar sebenarnya dalam islam, justru kebanggaan
kita dalam islam. Sebagai muslim kau bangga dengan islammu maka Allah akan
banggakan kalian dihadapan para malaikat dan di akhirat nanti”.
Dalam
kutipan diatas jelas sekali Ust. H. Muhammad Arifin Ilham ini mengajak atau
mempersuasi kita agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt dengan selalu
menjalankan perintah Allah yang wajib maupun yang sunnah serta bangga karena
telah diberi kesempatan untuk memeluk agama islam.
c. Analisis Prasyarat Organis Khutbah Ust. H. Muhammad Arifin Ilham
Dalam
khutbah ini Ust. H. Muhammad Arifin Ilham termasuk Da’i yang memenuhi prasyarat
organis dengan cukup baik. Beliau mampu mengontrol tempo dalam pengucapan kata,
dan membagi kata-kata tersebut dengan frase yang baik. Pembawaan khutbahpun
tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Hal ini memudahkan audiens untuk
memahami apa yang disampaikan oleh beliau. Modulasi suara atau perubahan ritmis
suara beliaupun cukup berperan dalam khutbah ini. Seperti ketika ia merasa
prihatin dengan kondisi umat islam di Indonesia yang latah mengikuti
budaya-budaya non-Islam atau ramalan-ramalan yang bersifat animisme dan dinamisme
beliau mengucapkan kalimat khasnya yaitu “Allahu Akbar Walillahilhamd” dengan
suara yang penuh dengan kesedihan. Namun, yang kurang daripada modulasi suara
beliau adalah ketka menyampaikan pesan dengan nada tinggi kata-kata yang
diucapkan menjadi lebih cepat sehingga terkadang ada artikulasi suara yang
kurang jelas terdengar. Tetapi dari keseluruhan aspek dalam berkhutbah terutama
dari prasyarat organis beliau termasuk Khotib yang baik dan mampu menggugah
hati para pendengarnya.
d. Analisis Prasyarat Bahasa Khutbah Ust. H. Muhammad Arifin
Ilham
Sebelum masuk ke dalam analisis
bahasa Ust. H. Muhammad Arifin Ilham terlebih dahulu kami menjelaskan proses
penyampaian yang digunakan beliau dalam berkhutbah. Sudah kita pelajari bahwa
proses penyampaian pidato atau khutbah itu ada empat macam. Yang pertama yaitu
improptu atau yang biasa disebut pidato dadakan, yang kedua manuskrif yaitu
pidato yang membaca teks, memoriter yaitu berpidato dengan menghafal materi
pidato, dan yang terakhir itu ekstempor yaitu pidato dengan membuat catatan
garis besar daripada pidato tersebut. dalam hal ini ust. Muhammad Arifin Ilham
dalam berkhutbah terlihat membawa secarik kertas. Namun selama mebawakan
khutbah beliau tak melihat kertas tersebutdalam khutbahnya. Dalam hal ini Ust.
H. Muhammad Arifin Ilham menggunakan teknik ekstempor. Namun, beliau lebih
terlihat sebagai seorang khotib yang menggunakan teknik improptu. Karena bahasa
yang digunakan sangat komunikatif dan mudah dipahami oleh audiens.
Untuk analisis bahasa dari Ust. H. Muhammad Arifin Ilham di
antaranya yaitu :
a.
Kesadaran
Berbicara
Perlu kita ketahui bahwa
sekitar 95 % manusia berbicara tanpa sadar. Berarti mereka tidak mendengar
akibat dari bahasanya, kata-kata yang dipilihnya, susunan kalimatnya, rasa
bahasa, nada monoton dari suaranya, tempo bicaranya dan artikulasinya. Kebanyakan
orang terlalu sibuk dengan bahan yang dibicarakan dan tenggelam di dalamnya
sehingga tidak sadar lagi akan bahasa yang dipergunakan.\
Dalam hal ini Ust. H. Muhammad
Arifin Ilham mampu mengontrol bahasa yang beliau ucapkan. Beliau sadar dengan
setiap pelapan yang diucapkannya. Ini dibuktikan dengan frase-frase yang tepat
ketika beliau berbicara. Setiap kata-kata yang beliau keluarkan terasa
hati-hati dan difikirkan secara matang-matang. Ini dibuktikan pula dengan
kutipan sebagai berikut :
“kita lihat para ulama
sekalipun, mencontohkan bukan contoh, yang terbaik dari ajaran islam. Selamat
natal adalah keyakinan, ritual, teman-teman kita kristiani dan itu acara ritual
mereka dan itu bagian ritual agama mereka. Bahkan kita dilarang mencaci maki
sembahan mereka. Tetapi islam juga melarang umatnya mencampurkan tauhid dengan
kemusyrikan. Syirik itu bukan tidak beriman kepada Allah, dia beriman kepada
Allah tetapi beriman kepada selain Allah. Dia sembah Allah tetapi menyembah
kepada selain Allah. Dia percaya kepada Allah tetapi percaya kepada keris,
percaya kepada jimat, percaya kepada dukun, animisme dan dinamisme yang mengakar lama
dalam negeri ini tidak mudah dikikis, campur aduk dan bahkan dijadikan adat
istiadat yang diteguh oleh tokoh masyarakat.”
Dari kutipan tersebut beliau cukup berhati-hati dalam
penyampaiannya.karena hal ini berkaitan tentang Aqidah. Jika salah pengucapan
sedikitpun maka jama’ah akan dapat tergelincir dalam memahami maksud daripada
yang disampaikan oleh beliau.
b.
Ritme
dan Dinamika Bicara
Ritme
bicara beliau cukup baik, penekanan kata yang dilafalkan sudah cukup baik,
sehingga khutbah menjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Kemudian untuk
dinamika bicara beliaupun baik, tidak kaku dalam pengucapan, pasti dalam
pengucapan kalimat, sangat percaya diri, semangat dengan penyampaian materi,
dan memberikan rasa dengan mimik wajah dan menaik turunkan suaranya sehingga
khutbahnya lebih berwarna.
c.
Perbendaharaan
Kata
Dalam
hal perbendaharaan kata. Ust. H. Muhammad Arifin Ilham mempunyai perbendaharaan
kata yang baik. Banyak istilah istilah asing baik dalam bahasa inggris maupun
bahasa Arab yang beliau gunakan ketika berkhutbah. Dan bagusnya lagi kata yang
terdengar asing itu dijelaskan kembali menggunakan bahasa Indonesia sehingga
membuat masyarakat yang hadir mampu mempelajari dan mengerti maksud dari
kata-kata asing itu. Seperti halnya sebagai berikut :
“Millatahum
bukan berarti hanya mengikuti ajaran mereka, tetapi millatahum itu mengikuti
kebiasaan mereka, gaya hidup mereka, ritual keagamaan mereka, politik mereka”.
d.
Susunan
Kalimat
Telah
banyak kalimat yang dipaparkan sebelumnya. Susunan kalimat beliau cukuplah
baik. Dapat kita ketahui bahwa susunan
kalimat itu dapat menjelaskan seberapa logis dan rohani seseorang. Susunan
kalimat beliau sangat banyak diselipkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah
seperti, Allahu Akbar walillahilhamd, masya Allah, subhanallah. Ini
mencerminkan betapa tinggi tingkat rohani beliau. Dan penyampaian kalimat
beliau dibagi dengan frase yang tidak begitu panjang sehingga pendengar mudah
paham dan tidak mempersulit jalan pikiran jama’ah yang hadir.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari analisis Khutbah Jum’at Ust. H.
Muhammad Arifin Ilham tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwah beliau tidak
hanya cakap dalam tausyiah atau ceramah agama yang biasa kita lihat di televisi
atau di acara-acara Tabligh Akbar. Tetapi beliau cakap dalam penyampaian materi
ketika berkhutbah. Ini mencerminkan bahwa Ust. H. Muhammad Arifin Ilham adalah
sosok Da’i yang patut dijadikan teladan daripada Da’i-Da’i yang lain. Banyak
orang yang sangat pandai dalam berpidato, dalam berceramah namun menolak untuk
menyampaikan khutbah karena mereka rasa sangat berat dan beda sekali dengan
ceramah yang tidak mempunyai patokan atau rukun rukun dan syarat syah di
dalamnya.
Kemudian seorang Da’i yang baik
haruslah mempunyai ciri khas, baik dalam segi berpakaian,berbicara, tingkah
laku maupun materi yang disampaikan. Yang menjadi ciri khas dari beliau
sehingga mudah dikenali oleh masyarakat
luas yaitu cara berpakaian beliau yang selalu mengenakan pakaian berwarna putih
dengan peci sulam serta sorban yang melingkar di lehernya dengan tambahan
jenggot yang khas. Kemudian cara penyampaian beliau yang santai dan santun
dalam berbicara, menggunakan kata kata halus walau terkadang menggunakan
intonasi yang keras dan cepat beliau tetap memilih bahasa yang santun dan tidak
menjatuhkan.
Demikanlah analisis retorika khubah
Jum’at Ustadz Muhammad Arifin Ilham yang dapat kami paparkan, mudah-mudahan bermanfaat bagi diri kita. Jika
ada kesalahan dalam mengeneralisasikan pemikirin, baik yang nampak maupun yang
tersirat kami mohon maaf yang seluas luasnya.
Terima
kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar