Rabu, 27 April 2016

Analisis Retorika Khutbah Ust. H. Muhammad Arifin Ilham

Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Wr. Wb,
            Segala Puji bagi Allah yang telah memberi kita berbagai macam nikmat, baik nikmat iman, nikmat islam, nikmat sehat wal afiyat serta nikmat panjang umur. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Analisis Retorika Khutbah Jum’at Ust. H. Muhammad Arifin Ilham semoga kita selalu di dalam naungan Allah Swt.
            Sholawat serta salam tak lupa kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Mudah-mudahan keluarganya, sahabatnya dan pengikutnya termasuk kita sampai dengan hari kiamat mendapatkan syafaat dari baginda Nabi Muhammad Saw.
            Dalam hal ini kami mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada pihak yang membatu terbentuknya makalah ini. Kepada orang tua kami, kepada teman teman kami dan kepada Bapak Dosen yang telah menjadi inspirasi dan penyemangat kami.
Kiranya dalam penulisan makalah ini ada kekeliruan dan kesalahan kami mohon kritik dan saran yang membangun motivasi kami. Demikianlah  yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat.
           

Jakarta, 05 Desember 2015


                                                                                           Penyusun
                                                                                           Qois Dzulfaqqor













BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai aktivitas-aktivitas yang bersifat dakwah. Baik di media massa seperti televisi, radio, sosial media maupun secara langsung seperti pada peringatan hari-hari besar islam ataupun ketika sedang khutbah jum’at yang setiap minggunya kita saksikan.
            Dalam berdakwah masing masing Da’i memiliki karakteristik yang berbeda beda satu sama lainya. Baik dalam segi penyampaian ceramah, tata bahasa, maupun keunikan dari si Da’i itu sendiri sehingga jama’ah yang hadir menjadi betah di dalam majelis tersebut. namun, tak banyak juga Da’i yang mampu menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada pada saat ia tampil. Sehingga jama’ah merasa bosan dengan tausiah yang dibawakan oleh sang Da’i. Hal ini yang membuat banyak jama’ah menjadi kurang paham dan salah penafsiran ketika mempraktekkan di kehidupan sehari hari.
            Dalam makalah ini, saya mengangkat tema analisis retorika dakwah seorang ustadz yang benama Uts. H. Muhammad Arifin Ilham  karena saya melihat dalam diri Ust. H. Muhammad Arifin Ilham mencerminkan sebagai sosok Da’i yang cukup terbilang berhasil dalam dakwahnya. Apa saja kiat-kiat yang membuat beliau berhasil dalam dakwah terutama dilihat dari sisi retorika yang beliau bawakan di setiap Tausiah maupun khutbah ?.
B.     Rumusan Masalah
1.      Siapakah Ust. H.  Muhammad Arifin Ilham ?
2.      Kiat-kiat retorika apa saja yang digunakan oleh beliau dalam berkhutbah ?
C.     Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun untuk mengetahui sejauh mana retorika dakwah Ust. H. Muhammad Arifin Ilhma sehingga dakwah yang beliau lakukan tergolong berhasil hingga puluhan ribu jama’ah selalu hadir saat tabligh akbar yang rutin dilakukan di Masjid Adz- Dzikra Jabal Sindur. Dan juga mengambil pelajaran dari dakwah beliau sehingga kita dapat berhasil menempuh sulitnya medan dakwah yang kita akan hadapi kapanpun dan dimanapun.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Mengenal Sosok Ust. H. Muhammad Arifin Ilham.
Hampir tak ada umat Muslim Indonesia yang tak kenal dengan ustadz yang satu ini. Dengan ciri khas suaranya yang serak dan peci sulam yang selalu dikenakannya serta jenggot yang menambah kekhasan beliau sehingga mudah dikenali oleh masyarakat islam di Indonesia, apalagi beliau sering muncul di acara televisi dan sekarang ini beliau selalu hadir di acara Serambi Islami setiap Kamis pukul 05.00 WIB di TVRI. Beliau adalah Pimpinan daripada Majelis Dzikir Adz- Dzikra yang bermarkas di desa Cipambuan, Babakan Madang, Sentul Selatan Kab. Bogor Jawa Baratyang jama’ahnya cukup banyak yaitu bisa dikatakan puluhan ribu jam’ah, karena setiap ada tabligh akbar ada ratusan bus yang terparkir dan itu membuat kemacetan dari pintu tol Sentul City hingga kurang lebih 5 km jauhnya, begitulah yang dikatakan beliau dalam acara Serambi Islam TVRI belum lama ini.
Adapun biodata beliau adalah sebagai berikut :
·         Nama                                : Ust. H. Muhammad Arifin Ilham
·         Tempat Tanggal Lahir      : Banjarmasin, 8 Juni 1969.
·         Nama Istri                        : Rania Bawazier (menikah tahun 2010), Wahyuniati Al-Waly
  (menikah tahun 1998)
·         Nama Anak                      : Amtaza Syahla Arifin, Alaa Hifzhiyah Arifin, Muhammad
Alvin Faiz, Muhammad Amer Azzikra, Muhammad Azka Najhan
·         Saudara kandung             : Mursidah, Fitriani, Qomariah, Siti Hajar
·         Orang tua                         : Nurhayati (ibu), Ismail Marzuki (ayah)
 
B.     Analisis Retorika Dakwah Khutbah Jum’at Ustadz. Muhammad Arifin Ilham
Dalam analisis ini kami menggunakan tambahan referensi video khutbah Jum’at yang di unggah melalui Youtube dengan link sebagai berikut :
Adapun yang pertama hasil analisis retorika khutbah Ust. Arifin Ilham dipaparkan sebagai berikut :
a.      Sikap Sebelum, Saat dan Sesudah Khutbah.
1.      Pemilihan Pakaian
Dalam suatu pidato, ceramah, atau khutbah seorang Da’i haruslah memperhatikan cara berpakaian. Pemilihan cara berpakaian ini sangat mempengaruhi sikap simpati mad’u yang melihatnya. Dalam hal ini Ust. H. Muhammad Arifin Ilham selalu menggunakan pakaian muslim atau gamis berwarna putih dan peci sulam berwarna putih pula dan sorban yang di kalungkan di lehernya. Pemilihan pakaian ini sesuai dengan situasi dan kondisi yang akan dihadapi oleh Ust. Arifin. Yaitu khutbah atau ceramah, sehingga audiens percaya bahwa beliau mampu menyampaikan materi karena cara berpakaian beliau seperti orang yang sudah sangat pandai berdakwah.
2.      Sebelum menuju mimbar
Dalam menuju mimbar beliau berjalan dengan langkah tenang dan tidak terburu-buru. Hal ini membuat  simpati yang positif dari para jama’ah yang hadir. Jama’ah mempunyai anggapan bahwa khotib yang hendak naik ke mimbar itu adalah khotib yang mumpuni dan mampu menjelaskan segala macam hal yang berkaitan dengan ilmu agama. Posisi saat menuju mimbar itu sangat penting. Jika kita menampilkan kegelisahan kita dengan berjalan terburu-buru atau dengan gerakan-gerakan yang aneh yang mebuat mata para jama’ah terusik,  dan akan menimbulkan ketidak percayaan jama’ah kepada Da’i yang akan menyampaikan materi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa kesan pertama dalam penyampaian dakwah itu sangat penting, jika kesan pertama salah diterjemahankan karena kecerobohan Da’i oleh jama’ah, maka jama’ah akan menyimpulkan dengan cepat dan kesimpulan yang ditimbulkan itu biasanya dimunculkan dengan persepsi yang negatif kepada sang Da’i.
3.      Sikap Saat di Mimbar
Ketika naik di mimbar Ust. H Muhammad Arifin Ilham tidak langsung mengucapkan salam. Akan tetapi beliau diam sambil memperhatikan jama’ah yang hadir pada kesempatan sholat jum’at yang dilaksanakan pada 4 Januari 2013. Setelah beliau rasa cukup tenang beliau barulah mengucap salam. Hal ini dimaksudkan untuk membangun mental dalam berkhutbah atau proses mengendalikan diri agar mengurangi rasa kecemasan komunikasi (demam panggung). Siapapun orang yang berdakwah, sehebat apapun orang dalam berbicara pasti masih terbesit dalam dirinya kecemasan komunikasi tersebut walaupun hanya sedikit. Inilah teknik yang dilakukan oleh Ust. H. Muhammad Arifin Ilham dalam melumerkan suasana sehingga mengurangi kecemasan tersebut.
 Kemudian sikap beliau ketika di mimbar yaitu mampu tenang walaupun membahas tema dengan pembahasan yang menggebu gebu. Biasanya Da’i sangat sulit mengontrol gerak tubuh terutama gerakan tangannya. Tetap tenang dalam berkhutbah merupakan salah satu etika dalam berkhutbah. Hal ini diterapkan oleh Ust. H. Muhammad Arifin Ilham sambil memegang tongkat. Kemudian beliaupun menatap mata audiens yang hadir pada kesempatan tersebut. karena kontak mata sangan penting. Walaupun tidak ada proses tanya jawab di dalamnya, kontak mata menjadi salah satu indikator bahwa Da’i sedang berkomunikasi kepada sang mad’u. Dan ketika duduk di antara dua khutbah beliau sengaja mengambil jeda yang cukup lama. Agar jama’ah dapat berdo’a, karena beliau tahu do’a di antara dua khutbah itu tiada hijab dan mustajabah. Ini juga termasuk etika dalam berkhutbah yang beliau praktekkan.  
4.      Sikap Meninggalkan Mimbar
Dalam berkhutbah hendaknya meninggalkan kesan yang baik. Kesan baik ini bukanhanya berupa senyuman atau hal yang bersifat fisik belaka. Namun, dalam berkhutbah yang lebih ditekankan yaitu meninggalkan ilmu pengetahuan yang membekas pada jama’ah yang hadir  dan dapat dengan mudah dimengerti sehingga jama’ah mudah untuk menerapkannya. Dalam hal ini Ust. Muhammad Arifin Ilham meninggalkan kesan yang positif. Hal ini bisa di katakan karena beliau mampu menyampaikan hal mudah dipahami sehingga mudah untuk di praktekkan oleh para jama’ah yang hadir.
b.      Analisis Tujuan Khutbah Ust. H. Muhammad Arifin Ilham
Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap pidato, ceramah, ataupun khutbah mempunyai tujuan di dalamnya. Tujuan tersebut dibagi menjadi 3 tujuan yaitu Informatif, persuasif dan Rekreatif. Dalam khutbah yang disampaikan beliau terdapat unsur informatif dan juga unsur persuasif. Dan sudah kita ketahui juga khutbah jum’at tidak boleh diniatkan untuk tujuan rekreatif apalagi sengaja dibuat untuk sarana lucu-lucuan belaka. Adapun unsur informatif yang ada pada khutbah ini ialah sebagaimana kutipan khutbah berikut :
“Selamat Tahun baru perayaan yang mubazir, perayaan yang sia-sia. Dan lihat sejarah, tahun baru julious kaisar romawi menetapkan 1 Januari sebagai hari persembahan kepada dewa jamus penguasa gerbang gerbang ruang dan waktu yang wajahnya menghadap ke barat dan ke timur menghadap kepada perubahan waktu ke depan dan ke belakang lalu mereka merayakan dengan menyanyi, memutari api unggun dan meniup terompet bergembira ria mereka lalu haruskah umat islam latah mengikuti perayaan tahun baru dengan meniup terompet, rasulullah Saw bersabda “aku larang umat islam meniup terompet karena meniup terompet adalah kebiasan umat yahudi” (HR. Abu Daud).”
Dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa beliau memberi informasi kepada kita bahwa perayaan tahun baru masehi bukanlah perayaan umat islam, tetapi perayaan bangsa romawi dan kita sebagai umat islam tidak boleh merayakannya.
Kemudian dari sisi persuasif yang dibawakan oleh beliau dalam khutbahnya sebagai berikut :
“ karena itu wahai hamba-hamba Allah yang beriman dalam situasi seperti ini tetaplah bertaqwa kepada Allah, jagalah aqidah, perbanyak sholat malam, tadabburkan al-Qur’an, sholat berjama’ah di Masjid, sholat Dhuha, jaga wudhu, berkumpullah dengan orang-orang sholeh, bergurulah dengan ulama yang istiqomah, jangan terkecoh, jangan latah, jangan ikut-ikutan, semua punya konsekuensin sendiri dimata Allah Jalla Jalalah,hidup kita tidaklama di dunia ini, apa susahnya taat, apa susahnya sabar sebenarnya dalam islam, justru kebanggaan kita dalam islam. Sebagai muslim kau bangga dengan islammu maka Allah akan banggakan kalian dihadapan para malaikat dan di akhirat nanti”.
Dalam kutipan diatas jelas sekali Ust. H. Muhammad Arifin Ilham ini mengajak atau mempersuasi kita agar selalu bertaqwa kepada Allah Swt dengan selalu menjalankan perintah Allah yang wajib maupun yang sunnah serta bangga karena telah diberi kesempatan untuk memeluk agama islam.  
c.       Analisis Prasyarat Organis  Khutbah Ust. H. Muhammad Arifin Ilham
Dalam khutbah ini Ust. H. Muhammad Arifin Ilham termasuk Da’i yang memenuhi prasyarat organis dengan cukup baik. Beliau mampu mengontrol tempo dalam pengucapan kata, dan membagi kata-kata tersebut dengan frase yang baik. Pembawaan khutbahpun tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Hal ini memudahkan audiens untuk memahami apa yang disampaikan oleh beliau. Modulasi suara atau perubahan ritmis suara beliaupun cukup berperan dalam khutbah ini. Seperti ketika ia merasa prihatin dengan kondisi umat islam di Indonesia yang latah mengikuti budaya-budaya non-Islam atau ramalan-ramalan yang bersifat animisme dan dinamisme beliau mengucapkan kalimat khasnya yaitu “Allahu Akbar Walillahilhamd” dengan suara yang penuh dengan kesedihan. Namun, yang kurang daripada modulasi suara beliau adalah ketka menyampaikan pesan dengan nada tinggi kata-kata yang diucapkan menjadi lebih cepat sehingga terkadang ada artikulasi suara yang kurang jelas terdengar. Tetapi dari keseluruhan aspek dalam berkhutbah terutama dari prasyarat organis beliau termasuk Khotib yang baik dan mampu menggugah hati para pendengarnya.

d.      Analisis Prasyarat Bahasa Khutbah Ust. H. Muhammad Arifin Ilham
Sebelum masuk ke dalam analisis bahasa Ust. H. Muhammad Arifin Ilham terlebih dahulu kami menjelaskan proses penyampaian yang digunakan beliau dalam berkhutbah. Sudah kita pelajari bahwa proses penyampaian pidato atau khutbah itu ada empat macam. Yang pertama yaitu improptu atau yang biasa disebut pidato dadakan, yang kedua manuskrif yaitu pidato yang membaca teks, memoriter yaitu berpidato dengan menghafal materi pidato, dan yang terakhir itu ekstempor yaitu pidato dengan membuat catatan garis besar daripada pidato tersebut. dalam hal ini ust. Muhammad Arifin Ilham dalam berkhutbah terlihat membawa secarik kertas. Namun selama mebawakan khutbah beliau tak melihat kertas tersebutdalam khutbahnya. Dalam hal ini Ust. H. Muhammad Arifin Ilham menggunakan teknik ekstempor. Namun, beliau lebih terlihat sebagai seorang khotib yang menggunakan teknik improptu. Karena bahasa yang digunakan sangat komunikatif dan mudah dipahami oleh audiens.
Untuk analisis  bahasa dari Ust. H. Muhammad Arifin Ilham di antaranya yaitu :
a.       Kesadaran Berbicara
Perlu kita ketahui bahwa sekitar 95 % manusia berbicara tanpa sadar. Berarti mereka tidak mendengar akibat dari bahasanya, kata-kata yang dipilihnya, susunan kalimatnya, rasa bahasa, nada monoton dari suaranya, tempo bicaranya dan artikulasinya. Kebanyakan orang terlalu sibuk dengan bahan yang dibicarakan dan tenggelam di dalamnya sehingga tidak sadar lagi akan bahasa yang dipergunakan.\
Dalam hal ini Ust. H. Muhammad Arifin Ilham mampu mengontrol bahasa yang beliau ucapkan. Beliau sadar dengan setiap pelapan yang diucapkannya. Ini dibuktikan dengan frase-frase yang tepat ketika beliau berbicara. Setiap kata-kata yang beliau keluarkan terasa hati-hati dan difikirkan secara matang-matang. Ini dibuktikan pula dengan kutipan sebagai berikut :
“kita lihat para ulama sekalipun, mencontohkan bukan contoh, yang terbaik dari ajaran islam. Selamat natal adalah keyakinan, ritual, teman-teman kita kristiani dan itu acara ritual mereka dan itu bagian ritual agama mereka. Bahkan kita dilarang mencaci maki sembahan mereka. Tetapi islam juga melarang umatnya mencampurkan tauhid dengan kemusyrikan. Syirik itu bukan tidak beriman kepada Allah, dia beriman kepada Allah tetapi beriman kepada selain Allah. Dia sembah Allah tetapi menyembah kepada selain Allah. Dia percaya kepada Allah tetapi percaya kepada keris, percaya kepada jimat, percaya kepada dukun,  animisme dan dinamisme yang mengakar lama dalam negeri ini tidak mudah dikikis, campur aduk dan bahkan dijadikan adat istiadat yang diteguh oleh tokoh masyarakat.”
Dari kutipan tersebut beliau cukup berhati-hati dalam penyampaiannya.karena hal ini berkaitan tentang Aqidah. Jika salah pengucapan sedikitpun maka jama’ah akan dapat tergelincir dalam memahami maksud daripada yang disampaikan oleh beliau.
b.      Ritme dan Dinamika Bicara
Ritme bicara beliau cukup baik, penekanan kata yang dilafalkan sudah cukup baik, sehingga khutbah menjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Kemudian untuk dinamika bicara beliaupun baik, tidak kaku dalam pengucapan, pasti dalam pengucapan kalimat, sangat percaya diri, semangat dengan penyampaian materi, dan memberikan rasa dengan mimik wajah dan menaik turunkan suaranya sehingga khutbahnya lebih berwarna.
c.       Perbendaharaan Kata
Dalam hal perbendaharaan kata. Ust. H. Muhammad Arifin Ilham mempunyai perbendaharaan kata yang baik. Banyak istilah istilah asing baik dalam bahasa inggris maupun bahasa Arab yang beliau gunakan ketika berkhutbah. Dan bagusnya lagi kata yang terdengar asing itu dijelaskan kembali menggunakan bahasa Indonesia sehingga membuat masyarakat yang hadir mampu mempelajari dan mengerti maksud dari kata-kata asing itu. Seperti halnya sebagai berikut :
“Millatahum bukan berarti hanya mengikuti ajaran mereka, tetapi millatahum itu mengikuti kebiasaan mereka, gaya hidup mereka, ritual keagamaan mereka, politik mereka”.
d.      Susunan Kalimat
Telah banyak kalimat yang dipaparkan sebelumnya. Susunan kalimat beliau cukuplah baik.  Dapat kita ketahui bahwa susunan kalimat itu dapat menjelaskan seberapa logis dan rohani seseorang. Susunan kalimat beliau sangat banyak diselipkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah seperti, Allahu Akbar walillahilhamd, masya Allah, subhanallah. Ini mencerminkan betapa tinggi tingkat rohani beliau. Dan penyampaian kalimat beliau dibagi dengan frase yang tidak begitu panjang sehingga pendengar mudah paham dan tidak mempersulit jalan pikiran jama’ah yang hadir.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Dari analisis Khutbah Jum’at Ust. H. Muhammad Arifin Ilham tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwah beliau tidak hanya cakap dalam tausyiah atau ceramah agama yang biasa kita lihat di televisi atau di acara-acara Tabligh Akbar. Tetapi beliau cakap dalam penyampaian materi ketika berkhutbah. Ini mencerminkan bahwa Ust. H. Muhammad Arifin Ilham adalah sosok Da’i yang patut dijadikan teladan daripada Da’i-Da’i yang lain. Banyak orang yang sangat pandai dalam berpidato, dalam berceramah namun menolak untuk menyampaikan khutbah karena mereka rasa sangat berat dan beda sekali dengan ceramah yang tidak mempunyai patokan atau rukun rukun dan syarat syah di dalamnya.
            Kemudian seorang Da’i yang baik haruslah mempunyai ciri khas, baik dalam segi berpakaian,berbicara, tingkah laku maupun materi yang disampaikan. Yang menjadi ciri khas dari beliau sehingga mudah dikenali   oleh masyarakat luas yaitu cara berpakaian beliau yang selalu mengenakan pakaian berwarna putih dengan peci sulam serta sorban yang melingkar di lehernya dengan tambahan jenggot yang khas. Kemudian cara penyampaian beliau yang santai dan santun dalam berbicara, menggunakan kata kata halus walau terkadang menggunakan intonasi yang keras dan cepat beliau tetap memilih bahasa yang santun dan tidak menjatuhkan.
            Demikanlah analisis retorika khubah Jum’at Ustadz Muhammad Arifin Ilham yang dapat kami paparkan,  mudah-mudahan bermanfaat bagi diri kita. Jika ada kesalahan dalam mengeneralisasikan pemikirin, baik yang nampak maupun yang tersirat kami mohon maaf yang seluas luasnya.
Terima kasih


Wassalamu’alaikum Wr. Wb. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar